Selasa, 08 November 2011

Pemuda Parlente Yang Dirindukan Surga

Dalam perjalanan kehidupan gemilang Nabi Muhammad bin Abdullah, kita tidak bisa lepas dari sesosok manusia pilihan Allah yang satu ini. Seorang pemuda parlente yang cerdas, kaya dan juga necis. Ia merupakan dambaan bagi setiap pembesar Quraisy kala itu. Pada setiap pertemuan bangsawan Quraisy di Darun Nadwah, kehadirannya selalu dinanti. Dan ketika ia datang, maka dipersilahkannya duduk di sana untuk berbincang bersama. Para pembesar Quraisy berharap, pemuda ini kelak akan menjadi penerus mereka.


Pemuda yang satu ini merupakan keturunan orang berpunya. Rambutnya selalu tersisir rapi, pakaiannyapun berasal dari kain yang halus. Ditambah lagi dengan kecerdasan dan ketampanannya. Pemuda ini , nyaris menjadi idaman setiap perawan di jazirah arab kala itu.



Ketika petinggi Quraisy sibuk membicarakan perihal dakwah Rasulullah, ia dengan seksama mengikuti tiap detailnya. Hingga kemudian watak kepemudaannya muncul : Penasaran. Ya, ia kemudian penasaran untuk mengetahui lebih jauh tentang Muhammad Rasululah dan ajaran yang dibawanya. Allah membimbingnya menuju cahaya. Maka dengan ini, kesempurnaan fisiknya terimbangi dengan tersinari hatinya oleh cahaya Ilahi.


Atas izin dari Allah, ia mengetahui bahwa Nabi dan para sahabatnya biasa melakukan liqo’-pertemuan- di rumah Arqam bin Abil Arqam. Jauh dan terpencilnya rumah tersebut sama sekali tidak menyurutkan langkah sang pemuda untuk menuju ke sana. Hingga kemudian, tepatnya ketika fajar hendak menyapa, sampaialah ia di dalam majelis surga itu. Disana , Rasulullah membacakan Al Qur’an dan menyampaikan risalah dakwah yang beliau emban. Diriwayatkan, sang pemuda yang haus akan kebenaran ini ‘hampir melayang’ lantaran sangat tenang ketika mendengar bacaan Al Qur’an dari Nabi yang menyejukkan jiwa. Maka, Nabipun mengulurkan tangannya sehingga tangan mereka saling bercengkerama dalam keromantisan imani.


Waktu terus berjalan, ia tetap mendatangi majlis Nabi itu dengan mengendap-endap. Bukan lantaran takut diketahui oleh keluarga dan pembesar Quraisy, melainkan lebih pada ‘strategi dakwah’ yang diinstruksikan oleh Nabi.


Tersebutlah dalam sebuah riwayat, seorang Quraisy bernama Usman bin Thalhah yang mendapati sang pemuda berkali-kali mendatangi rumah Arqam. Ia juga mendapati ketika sang pemuda melakukan ibadah (shalat) sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah. Maka, ia mengadu. Mengadu yang maknannya khawatir. Apa yang dilihatnya itu diadukan kepada Ibu sang pemuda dan pembesar-pembesar Quraisy.


Maka, dipangillah sang pemuda untuk menghadap di tengah-tengah pembesar Quraisy. Di sana ada ibunda tercintanya, Khunas binti Malik. Di sana, ia diadili.


Pantang mundur sebelum babak belur. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali. Mungkin, kalimat itu yang tepat untuk melukiskan sikap sang Pemudah Parlente itu. Ia mengakui semua tuduhan tersebut, bahwa ia mendatangi rumah Arqam, mengikuti majlis Nabi dan melakukan sholat sebagai konsekuensi dari apa yang diikutinya.


Ibu kandung yang seharusnya melindunginya, justru berbalik menyerangnya lantaran malu kepada pembesar Quraisy lainnya, ia langsung naik pitam mendengar pengakuan tulus anak tercintanya. Ketika sang anak menyampaikan ajaran yang diikutinya, Bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah Selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, serta merta sang ibu menghampiri anaknya dan hendak menampar habis-habisan wajah tampan anaknya. Dengan ke-Maha Kasih Sayangan Allah, sang Ibu mengurungkan niatnya. Wajah teduh sang anak sunguh melunakkan hati sang ibu, sedurhaka apapaun dia kepada anaknya. Sebagai konsekuensi dari keimanannya, sang ibu memberi ‘hadiah’ kepada anak kesayangannya itu : dikurung tanpa diberi makan. Hadiah yang sungguh ‘biadab.’

Hijrah ke Habasyah

Pengurungan yang dialami oleh Pemuda itu berlanjut hingga diberlakukannya perintah Rasulullah untuk hijrah ke Habasyah yang pertama, sekitar tahun kelima setelah kenabian, tepatnya pada bulan Rajab. Rombongan hijrah ini terdiri dari dua belas kaum lelaki dan empat kaum wanita.


Setelah mendengar kabar perintah Nabi tersebut, ia mencari cara untuk mengelabui ibu dan penjaga selnya sehingga bisa keluar. Dengan kecerdasannya, tipu muslihatnya berhasil. Ia keluar dari tahanan ibunya dan kemudian bergabung bersama kafilah dakwah menuju Habsyi. Disana, pemuda ini tinggal bersama kaum muhajirin lainnya. Mereka hidup secara aman, tanpa tekanan sebagaimana dialami mereka ketika berada di Makkah.. Hingga kemudian pulang menuju mekkah, sesuai titah Rasulullah.

Pertemuan Terakhir dengan Ibunda

Kisah ini merupakan sebuah sekuel sejarah peradaban tentang watak keras seorang anak dan ibu. Dimana keduanya bagai langit dan bumi. Tidak bisa disatukan dan cenderung saling menguatkan pendapatnya masing-masing.


Sepulangnya dari Habasyah, sang pemuda tetap tidak bergeming dengan kudeta dari ibu tercintanya. Dengan tidak mengurangi rasa hormatnya, ia terus berbakti. Berdakwah, menasehati dan juga mendoakan agar ibunya bergabung dalam kafilah dakwah Nabi. Namun, lagi-lagi kita disadarkan oleh Allah. Bahwa hidayah mutlak milikNya. Kita tidak akan bisa membagikannya secara gratis kepada siappaun yang kita ingini. Meskipun, yang kita ingin beri hidayah adalah ibu. Orang yang paling berharga kehadirannya, bagi siapapun.


Tibalah masa perpisahan itu. Sang anak terperanjat ketika ibunya melontarkan sebuah kalimat usiran. Kalimat yang maknanya ‘perceraaian’ antara anak dan ibu kandungnya. Kata sang ibu geram, “ Pergilah sesuka hatimu! Sesungguhnya aku bukanlah Ibumu lagi!” dengan tidak mengurangi rasa hormat sedikitpun sebagai anak, sang pemuda menjawab dengan santun, tegas dan berwibawa, “ Wahai Ibunda! Nanda telah menaruh kasihan kepada Bunda dan sudah menasehati Bunda. Karena itu, saksikanlah bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Sebuah jawaban telak yang maknanya, ‘ Lho Jual, Gua Beli.’ Dengan geram, sang ibu menjawab, “Demi Bintang! Sekali-kali aku tidak akan masuk ke dalam agamamu. Otakku bisa jadi rusak dan buah pikiranku tidak lagi diindahakn oleh orang lain.”


Dan perpisahan itu adalah niscaya. Sebagaimana perpisahan Nuh dengan Istri dan Anaknya, antara Luth dengan Istrinya, Aisyah dengan Fir’aun juga perpisahan antara Muhammad dengan Abu Thalib. Karena keimanan tidaklah mungkin bersatu dengan kekafiran. Kebenaran, selamanya akan berbalikan badan dengan keburukan. Cahaya, selamanya akan menajdi lawan kegelapan. Maka pemuda itu, resmi ‘bercerai’ dengan ibu kandung yang sangat diingininya mendapat hidayah. Semoga kita terlindung dari hal demikian.


Syahidnya Sang Pemuda

Waktu terus berjalan. Sang pemuda dengan setia mendampingi Nabi, hingga beliau termasuk dalam kafilah dakwah yang hijrah ke Madinah dan membentuk sebuah Pemerintahan Islam di sana. Kegigihannya dalam menegakkan kalimat Allah sudah tidak bisa diragukan lagi. Dan akhir hidupnya, semakin menegaskan bahwa beliau adalah salah satu Ahli Surga, Ia termasuk dalam barisan pemuda-pemuda yang dirindukan surga.

Medan Uhudpun bertalu-talu. Mengundang gairah para sahabat yang merindu syahid. Tak terkecuali, semua yang tidak berhalangan turut serta di dalam barisan syuhada’ itu. Mereka keluar dari kota Madinah dan menyongsong musuh di gunung Uhud. Di sinilah, kisah indah itu bermula, sang pemuda syahid. Ia menemui Allah dengan senyum kemenangan dambaan setiap insan yang beriman.

Tatkala pasukan muslim kocar kacir lantaran ulah beberapa sahabat yang ‘gila harta’, dimana pasukan musuh memburu habis-habisan rombongan yang diduga akan menyelamatkan Nabi, maka sang pemuda menaikkan tinggi-tinngi panji yang dibawanya. Ia berteriak untuk memancing perhatian musuh. Agar musuh berbalik mengejar dirinya dan mengacuhkan rombongan Nabi. Di sini, sikap kesatriaannya terlihat sangat jelas. Ia tak takut mati, sedikitpun. Ia bahkan terlihat seperti singa yang gagah. Singa yang nampaknya sudah bisa mencium surga sementara ia masih berada di dunia. Ia yang sendiri, nampak seperti dibantu oleh ribuan malaikat. Ia berhasil mengalahkan banyak pasukan musuh yang menyergapnya. Sampai kemudian datanglah seorang musuh bernama Ibnu Qumaiah. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha sekuat mampu mempertahankan panji, sembari berniat agar Nabi berhasil lari lebih jauh lagi dari kejaran musuh. Ia sama sekali tidak megkhawatirkan nyawanya. Yang ada dalam benaknya hanyalah surga dan keselamatan Nabi.


Ibnu Qumaiah berhasil memotong tangan kanan sang pemuda. Ia tidak bergeming. Panji yang dipegannya kemudian dialihkan menuju tangan kirinya. Ia mendekapnya, sementara telapak tangan kirinya masih memegang pedang dan mengayunkannya. Sang durjana tetap saja bernafsu untuk membunuh sang pemuda, sabetan pedang keduanya berhasil memotong tangan kiri sang pemuda. Maka panji yang ada kemudian ia dekap. Sekuat dekapannya, dengan sepenuh jiwa. Akhirnya, dengan sebilah tombak, sang pemuda tersenyum. Tombak itu ditancapkan oleh Ibnu Qumaiah sehingga putus di dalam tubuh sang pemuda.. Tombak itu telah menjadi perantara pertemuannya dengan kekasih sejatinya, Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Wajahnya menelungkup ke tanah dengan basuhan darah sucinya. Ia syahid di medan uhud. Diriwayatkan, setiap kali tangannya terpotong oleh tebasan pedang musuh, ia selalu berkata, “ Muhammad hanyalah utusan Allah. Dan telah berlalu Nabi-Nabi  yang serupa dengannya.”


Uhudpun berakhir. Rasul bersedih karena sebagian besar sahabatnya syahid. Termasuk sang paman Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid lantaran bidikan tombak seorang budak sewaan Hindun. Beliau mengelilingi medan Uhud dengan wajah sedih. Sedih karena beliau ditinggal oleh para pembela agama yang diembannya. Ketika menjumpai jasad Sang Pemuda yang tertelungkup, beliau membacakan firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 23, “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).”


Allahu Akbar walillahil hamd! Pemuda itu telah menunaikan janjinya. Ia telah menjual dirinya untuk Agama Allah. Ia telah menebus nyawanya dengan kesyahidan yang mengharukan. Ia telah membuat kita berdecak kagum dengan keberaniannya. Ia selayaknya, menjadikan kita menangis sejadi-jadinya, jika ternyata kita tidak mengenal siapa Pemuda mulia itu. Sahabat yang berjiwa muda, berparas gagah dan dirindu surga. Sang Pemuda Parlente  itu adalah Mush’ab bin Umair Radhiyallahu ‘Anhu. Semoga Allah menerima semua kemuliaan beliau. Aamiin..


Akhirnya, sahabat Khabbab bin Al Arrat meriwayatkan, “Tak sehelai kainpun untuk menutupi jasadnya selain burdah. Andai ditaruh di atas kepala, terbukalah kedua kakinya. Andai ditaruh dikakinya, terbukalah kepalanya. Maka Nabi bersabda, ‘ Tutupkan burdah itu di kepalanya dan tutupi kakinya dengan rumput Idzkir.”


Mush’ab yang tampan telah memberikan contoh. Bahwa iman bukan setengah-setengah. Ia harus diperjuangkan, meskipun harus berpisah dengan keluarga yang dicintai, harta yang dibanggakan, pun nyawa yang tinggal satu-satunya. Dari Mush’ab kita juga belajar, bahwa bakti kepada orang tua harus terus dilakukan, meskipun orang tua kafir. Semoga kita bisa meneladani Mush’ab, sekuat kemampuan kita. Mush’ab, aku rindu padamu

dimuat di = http://www.fimadani.com/pemuda-parlente-yang-dirindukan-surga/

Senin, 22 Agustus 2011

Selamat Merayakan Prasangka ...

Seorang sahabat berkonsultasi, “ Man, tidak tahu kenapa, belakangan ini, aku dilanda malas yang akut. Tilawahku kering, tanpa tadabbur, hanya bunyi ayat ayat Allah yang hambar kulantunkan. Tahajud malas-malasan, sepekan paling dua kali, itupun hanya sempat dengan tiga roka’at Witir. Bacaanku payah. Belajarku amburadul. Yang kudengarkan-pun, berubah. Awalnya Murottal, kemudian Nasyid haroki, Nasyid cinta - cintaan dan terakhir lagu Pop. Asli. Aku tidak tahu kenapa? Aku Bingung.” pertanyaan yang bertubi-tubi. Aku hampir terkapar menerimanya.

Aku hanya diam. Mencoba meraba hatinya. Ada bongkah yang sepertinya disembunyikan. Aku mengumpan, “ Bagaimana hubungan antum dengan Keluarga?” tanyaku kemudian.

“Alhamdulillah, Baik. Kemarin aku baru menelpon Ibu, kakak dan adik-adikku.” Jawabnya.

“Lho? Kamu gak menelpon Ayahmu?” tanyaku.

“Ayahku sudah meninggal sejak aku SD Man.” Jawabnya, kemudian terdiam.

“ Innalillahi. Ma’af, Aku tidak tahu.” Aku merasa bersalah, karena pertanyaanku seperti membuka luka di hatinya, mengingatkannya pada sosok Ayah, yang merupakan pahlawan bagi semua anaknya.

“ Hubunganmu dengan teman-temanmu gimana?” Aku kembali mengorek data dari dirinya.

“ Lumayan sich,” katanya ragu, seperti menutupi sesuatu.

“ Maksudnya? Lumayan gimana?”. Aku menangkap keraguan dalam tuturnya.

“ Sebenarnya ini masalahku Man. Ada sahabat yang belakangan ini ku-buruk sangka-i. Aneh. Aku juga tidak tahu alasannya. Aku mengira, bahwa dia (sebut saja fulan) telah menaruh iri pada diriku.” Dia diam.

“ Iri? Maksudnya? “ Aku menabrak tuturnya.

“ Iya, Aku mengira dia iri pada diriku. Tapi, setelah kupikir-kupikir, Aku tak punya satu alasanpun untuk di-irikan olehnya. Fulan, sahabatku itu adalah orang yang Aku, bukan apa-apa baginya. Di kantor, Ia adalah seniorku. Di pengajian, Dia lebih dulu bergabung dari diriku. Otomatis, materinya lebih banyak dari yang baru kuperoleh. Hafalan qur’anku, bukan apa-apanya. Tilawah Qur’anku, juga tak pantas untuk disandingkan dengan tilawahnya. Aku yang tertatih lelah sehari satu juz, Ia bisa dua juz. Bahkan lebih. Padahal, kerjanya sibuk. Sering keluar kantor, kadang juga berat. Sedangkan Aku ? hanya duduk manis di depan computer, persis tanpa mengeluarkan banyak tenaga. Gajiannya-pun jauh lebih besar dari gajianku. Bisnisnya juga lancar, tak selancar punyaku.” Ia bertutur, seperti sudah dihafalkan.

“ Lalu, apa yang kemudian membuatmu berprasangka bahwa Dia iri kepadamu?” tanyaku, sama bingungnya.

“ Mungkin, karena Aku kuliah sedangkan Dia KULI.” jawabnya ragu.

“ Tapi, nampaknya juga bukan itu. Soalnya, walaupun kuli, bacaannya banyak. Ia menguasai apa yang tidak kuketahui. Ia membaca lebih banyak dari yang kubaca. Walau dia KULI, kurasa dia lebih pantas menjadi Mahasiswa daripada diriku yang kuliah” belum kutanya, Dia kembali bertutur.

“ Kamu pingin tahu? Apa yang menyebabakan Gelapnya hatimu?” tanyaku, sedikit membuatnya penasaran.

“Tentu saja Man. Kalau tidak, buat apa aku bertutur panjang kalam padamu.” jawabnya menyambar.

“ Penyebabnya adalah PRASANGKA. Ingat Firman Allah, INNA BA’DADH DHONNI ITSMUN. Sesungguhnya, setelah Prasangka adalah Dosa. Prasangka yang dialamatkan secara membabi buta, terlebih kepada saudara semuslim,saudara semukmin, tidaklah menambah apa – apa, kecuali noda hitam yang kemudian memekatkan hati. Itu yang terjadi padamu. Jadi,  jangan sibuk dengan prasangkamu yang tidak Ilmiah. Apalagi Allah dan RasulNya secara jelas melarang hal itu. Segeralah berwudhu, istighfar sebanyak-banyaknya, kemudian minta maaf kepada saudaramu itu. Hindari prasangka buruk, sekecil apapun, kepada siapapun, selama tidak ada bukti. Jika ada bukti, bukan prasangka lagi, melainkan waspada. Semoga Allah selalu menjaga kita, dari godaan setan yang terkutuk.” Kataku menasehati, diriku juga dirinya.
Matanya hendak melelehkan air, Ia kemudian tertunduk. Aku membiarkannya dalam syahdu. Aku ingin dia memaknai kekhilafannya. Berharap ia juga mengingatkanku ketika silap.
“ Kau benar Man. Aku Khilaf. Aku memang banyak berprasangka, tanpa bukti Ilmiah. Aku juga telah menyalahi aturan Allah karena telah berprasangka buruk kepada si Fulan. Padahal Dia adalah  orang yang menjadi salah satu perantara dalam mendekati Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Terima kasih ya Man. Aku pamit pulang. Sudah ditunggu istriku.” Ia bersalaman. Aku mendekapnya, hangat. Dekapan seorang Bujang kepada seorang Suami muda, beranak satu.

***


Sahabat, tanpa disadari, dosa kecil bisa berdampak besar. Hanya sekedar prasangka, ternyata bisa menggelapkan hati. Na’udzubillah.

Sebuah kisah yang mudah mudahan membuat kita lebih hati-hati dalam menjaga hati. Karena hati, adalah raja. Sedangkan yang lainnya adalah prajurit. Sabda Nabi, “ Jika segumpal darah itu baik, maka baik pulalah seluruh anggota tubuh lainnya. Dan jika ia buruk , maka buruk pulalah anggota tubuh lainnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah HATI.”

Dalam berinteraksi, gesekan, bahkan tekanan kerapkali terjadi. Ini adalah niscaya dalam kehidupan. Karena kehidupan, sejatinya adalah proses menuju kedewasaan. Ia akan bermakna manakala kita bisa melalui semua ritangan dengan gemilang. Walau tertaih melangkah, semoga kita senantiasa bisa finish dengan sukses. Oleh karenanya, kualitas kita, ditentukan oleh sebijak apa kita dalam menghadapi masalah yang datang itu. Dan kedekatan dengan Allah dalam hal ini, adalah NISCAYA.

Kedekatan dengan Allah, melalu berbagai amal sholih, layaknya bahan bakar bagi sebuah kendaraan. Kendaraan kita, jika mesin dan komponen lain bagus, pastilah akan melaju kencang selama bahan bakarnya penuh. Di jalan, kendaraan ini tak mungkin mogok, bi idznillah. Begitupun dengan diri kita. Maka, sekali lagi, kedekatan dengan Allah adalah suatu keharusan jika kita ingin melaju pasti dalam mengarungi sirkuit kehidupan yang semakin terjal, berliku dan penuh rintangan ini. Selayaknya bagi ita untuk peka, untuk terus merapat ke langit, agar kokoh di bumi.

Sobat sekalian, tabiat manusia, adalah lupa. Ia sering melupakan kebaikan orang lain yang bertumpuk-tumpuk telah dilakukannya kepada kita, dan mengingat secuil keburukan orang tersebut. Hal ini tidaklah bijak. Karena pribadi seperti ini, lebih jelas dalam melihat semut di ujung sungai, daripada gajah yang besar dipelupuk matanya. Seperti sebuah pepatah yang menasehati, “ Susu Sebelangga Rusak karena nIla setitik.” semoga kita tidak termasuk dalam golongan seperti ini. Amiin.

Sementara itu, penelitian medis membuktijan, bahwa prasangka buruk yang kita alamatkan kepada saudara kita, tidak hanya berdmapak bagi pekatnya hati kita. Melainkan juga menimbuk\lkan penyakit pada fisik kita. Prasangka yang kemudian menimbulkan cemas sehinga bisa berujung pada penyakit jantung dan seterusnya. Jadi, Prasangka, sama sekali tidak menguntungkan.

Satu hal yang perlu kita camkan. Bahwa kemuliaan orang yang kita prasangkai, tidaklah berkurang sedikitpun, karena prasangka buruk kita. Orang yang kita prasangkai, manakala itu tidak sesuai dengan apa yang kita prasangkakan, maka ia akan beruntung. Karena dosanya telah diurangi oleh prasangka kita. Bisa jadi pula, kemuliaannya akan bertambah di sisi Allah. Alih-alih untung karena prasangka, yang kita dapati adalah rugi yang bertubi-tubi. So, Say No To Negative Thingking!

Kemudian, yang perlu diingat adalah dua hal, Kebaikan Orang lain kepada kita, dan keburukan Kita kepada orang lain. Begitupun denga dua hal yang harus kita lupakan, selupa-lupanya, yaitu Keburukan orang lain kepada kita dan kebaikan kita kepada orang lain. Semoga dengan empat hal ini, kita bisa terbebas dari berprasangka buruk kepada sahabat-sahabat kita.

Akhir kalam, Mari terus  dekatkan diri kepada Allah, semapu kita. Semoga Allah menjaga kita dari godaan setan yang terkutuk. Semoga Allah menunjuki kita kepada jalan yang Lurus. Hindari Prasangka, sekecil apapun, kepada siapapun, terlebih kepada saudara semuslim juga semukmin. Salam Ukhuwah.
Sahabat, aku mencintai kalian. Karena Allah …

Depok, 5 Jumadil Tsani 1432 H.
Ketika Senja menyapaku lembut, dengan kehangatan yang menginspirasi. Ia mengintipku dari balik jendela.  Ia seperti bergumam,”Man, Tataplah keindahanku” ….

Catatan Kematian.

Bismillah,
Saya awali cerita ini dengan mengingat sebuah hadits masyhur, hadits yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Hadits yang seharusnya membuat kita lebih bijak dalam menjalani hidup, mengumpulkan bekal untuk datangnya MATI. Hadits tersebut berbunyi,” Perbanyaklah mengingat Penggugur semua Nikmat, yaitu KEMATIAN.” Sebuah hadits singkat yang menghenyakkan. Seharusnya, tidur kita tidak nyenyak, manakala hadits ini kita baca sementara bekal yang kita kumpulkan kurang. Sementara itu, kita justru terbuai dengan aneka warna nikmat yang Allah berikan kepada kita. Sehingga kita lupa MATI.

***

Catatan Pertama.

Jum’at, 10 Jumadil Tsani 1432 H / 13 Mei 2011 M
Selepas subuh, saya menyenderkan punggung ke dinding samping kanan masjid. Hendak memulai tilawah. Dengan langkah yang pasti, Pak Ali, salah satu pengurus masjid mengambil alih Microphone. Di tangannya ada selembar kertas putih. Nampaknya, ia akan membacakan isi tulisan di kertas tersebut. Saya kemudian menyebutnya dengan, KERTAS MISTERIUS. “Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh” Ia memulai membaca. Firasatku sudah berkata, ini pasti berita duka. “ INNA LILLAHI WA INNA ILAHI ROJI’UN.” Seru bapak paruh baya itu. Semangat, namun ada getar yang mengiringi. Ia seperti menghayati apa yang sedang dibacanya. Untuk penekanan, ia mengulanginya. Sebanyak 3 kali. “TELAH BERPULANG KE RAHMATULLAH, Ibu Fulanah Binti Fulan. Meninggal pada Pukul 01.30 WIB. Semoga Allah menerima Amal kebaikan Beliau, mengampuni dosa beliau dan menempatkan Beliau di tempat terbaik di sisiNYa.” Kira kira seperti itu kalimat doa yang mengiringi PENGUMUMAN KEMATIAN.


Sekarang, kita yang mendengar PENGUMUMAN itu. Tapi boleh jadi, bahkan pasti. Suatu saat, kitalah yang akan diumumkan. Sejenak kemudian, Aku bertanya, pada diriku sendiri, “ Bukankah jam segini, banyak orang yang Mati? Mereka yang enggan Bangun untuk Sholat berjama’ah di Masjid tanpa halangan yang Syar’i? Bukankah mereka berarti juga MATI?” bayanganku menerawang. Jika semua itu diumumkan, pastilah banyak orang yang memarahi pengurus masjid yang mengumumkan berita itu.

***

Catatan Ke-dua.

Siangnya, ketika Sholat Jum’at. Ada yang terasa aneh. Panas yang mendominasi. Bukan hanya aku, hampir semua jama’ah bersimbah peluh. Apalagi mereka yang kebagian shaff belakang. Kipas angin yang hanya dua butir, digunakan untuk meng-angin-i seisi ruangan, sekitar ratusan orang. Maka, yang terjadi adalah, PANAS.

Sang Khotib berkhutbah tentang Fitnah, Cobaan yang melanda negeri ini. Dia menyampaiakna bahwa hal ini merupakan buah dari Penafsiran Qur’an yang nyleneh. Kata Khotib, “ Golongan ini banyak yang MEMELINTIR ayat, sesuka hati mereka.” Kemudian dibedah tentang Bom di mapolresta Cirebon, Cuci Otak NII KW 9 dan seabreg peristiwa terbaru yang mengoyak Negeri ini. MIRIS.


Selepas doa setelah sholat,  sang Imam berdiri dengan suara mengagetkan, “ MAYIT Bawa ke Depan!” Aku terperanjak. Batinku berkata, “Kenapa Mati lagi? Tadi pagi kan sudah ada yang diUMUMkan mati?” Kemudian, Dia berkata “Kepada bapak-bapak dan saudara yang punya waktu luang, dimohon kesediaannya untuk ikut sholat jenazah.” Akupun bangkit. Sebelum bangkit dengan sempurna, aku sempat melihat keranda biru yang diusung menuju ke lantai utama masjid, untuk disholati. “ Astaghfirullah…” aku berbisik, pada diriku. Badanku, tiba – tiba bergetar. Ada aliran aneh yang menyentuh tubuhku, Kesadaran akan datangnya Mati. Matapun berkaca-kaca, mengkilat. Namun tak sampai meneteskan air. Kukuatkan untuk berdiri dan mengikuti Imam, Shalat Jenazah. Ketika Takbir kuangkat pertama kali, getaran itu bertambah dahsyat, “ Ya Allah, ampuni Kami. Kali ini kami yang menyolati. Tapi suatu saat, kami jualah yang akan disholati” Batinku berdialog seru, entah dengan siapa.


***

Catatan Ke-tiga.

Pukul 15.30 WIB. Sore harinya. Aku dan temanku beranjak pulang ke Depok. Dari Cakung - Jakarta Utara. Dengan senyum mengembang, karena baru selesai makan siang, kendaraan kami melaju pasti. Melewati jalan cakung arah tanjung priok, kemudian putar balik untuk masuk Tol, lewat gerbang Tol Cikunir. Kendaraan kami melaju kencang, 100km/jam. Sepanjang jalan. Langit terlihat muram. Ia seperti memendam amarah. Tak lama kemudian, ia menumpahkan semua isinya. Hujan yang berderai –derai, deras tak karuan, angin yang pontang panting disertai guruh dan halilintar yang berlomba. Semuanya kompak, MEMBUAT KAMI PANIK. Secara berkala kami memperlambat laju. Genangan air di jalan tol Jagorawipun nampak meninggi. Ah, di tengah sedikit panik, aku teringat di kampungku. Jika hujan deras begini, ini adalah momen tepat untuk belajar berenang, GRATIS. Walaupun endingnya adalah Menggigil dan dimarahin Ibu.
Tak terasa, kami memasuki KM 30an. Tiba-tiba macet. Kami bertanya-tanya. Ada apakah gerangan? Mengapa macet seperti ini? Padahal sebelumnya Lancar?

Kamipun menyimpan tanya kedalam hati masing-masing. Tidak berselang lama, kami melewati penyebab macet, Enam Mobil Mewah di Lajur kanan Secara KOMPAK melakukan TABRAKAN BERUNTUN. “ Inna LIllahi Wa Inna Ilahi Roji’un” mulutku bergumam. Walau tidak ada korban jiwa, ini merupakan salah satu perisstiwa yang Mendekatkan Ingatan kami pada sesuatu yang HAQ, MATI.

Ini adalah nasehat Kematian Ketiga. Pikirku, ini adalah nasehat KEMATIAN yang terakhir untuk hari ini.

***

Catatan ke-empat.

Suasana jalanan Tole Iskandar nampak seperti biasa, Ramai. Aku menikmati langkah, diiringi rintik, menyusuri trotoar di pucuk jalan itu. Tujuanku, masjid Baiturrahman. Aku ingin I’tikaf di sana selepas maghrib nanti. Tak berselang lama, baru sekitar 5 menit perjalanan, ada pesan singkat yang nyangkut di ponselku. Seorang sahabat dari kota sebelah, Bekasi. Setelah kubuka, bunyinya aneh, Nampak sendu. Tapi, aku menangkap ketegaran dr isi pesan tersebut. Begini bunyinya, “Sedih, Kakek yang di sini (Bekasi) Meninggal Dunia.”

Pesan tersebut tak lekas kubalas. Aku ingin menikmati kecamuk yang terjadi dalam fikirku. Bagaimanapun, ini adalah nasehat KEMATIAN keempat kalinya di hari ini. Si Kakek ( ALmarhum) meninggal dengan sebab, Bi Idznillah, terjatuh dari Atap. Untuk menegarkan, kukirim pesan balasan kepada sahabatku itu, “ Yang Sabar Mba’. Semoga in adalah cara terbaik bagi beliau untuk bertemu dengan Allah”.

Kawan, lagi-lagi aku berkata, “ Sekarang aku membaca pesan tentang kematian. Lusa, besok atau sesaat lagi, Jika Allah menghendaki, Aku pasti akan menjadi Objek di pesan tersebut. Aku, pasti akan dikabarkan dan benar-benar MATI.”

Apakah sudah selesai? Belum. Mari lanjutkan…

***

Catatan Ke-lima.

Pukul 22.00 WIB. Aku hendak mati, menuju kasur. Mati untuk sementara, TIDUR. “ Bismika Allahumma Ahya Wa Bismuka Amuut” Doaku diiringi istighfar yang bertubi-tubi. Di tengah istighfarku, ada pesan masuk. Dari adikku di pemalang. “Ada apa malam – malam begini mengirim pesan?” tanyaku sendiri. Jariku dengan sigap mebuka pesan itu. “ INNA LILLAHI WA INNA ILAHI ROJI’UN. Mas, Mak Pesek Mati” Aku bingung. Pesannya ambigu. Pasalnya, dikampungku ada 3 Pesek. Pesek Istrinya Om Hanto, Pesek Istrinya Pak Maman Dan Pesek Istrinya Om Tarjani, Bibiku sendiri. Dengan ekspresi bingung, kubalas  singkat, “ Mak Pesek Siapa?” dengan harap-harap cemas, aku menunggu pesan balasan. Selang beberapa detik, Adikku kembali megirim pesan. “ Mak Pesek Bojone Om Hanto. Ibune Win.”

Untuk kelima kalinya, saya dibuat terhenyak dengan kabar KEMATIAN yang tidak pernah dikehendaki oleh siapapun. Padahal Kematian itu pasti. Dengan haru, aku berbisik pada diriku sendiri, “ Ya Allah, jika malam ini aku harus mati, maka Khusnul Khotimahkanlah Aku.” Akupun mengiringi perjalananku menuju MATI ( Tidur ) dengan istighfar sejadi – jadinya.

***

Catatan Ke-enam.

“Alhamdulillahilladzi Ahyaana Ba’da Maa Amatanaa Wa Ilahin Nusyur.” Aku beranjak dari tempat tidur. Kulihat, teman-teman sekamarku masih MATI, belum ada yang bangun. Aku berkata pada diriku, “ ternyata aku masih hidup.” Waktupun terus merambat hingga kemudian adzan subuh berkumandang. Ketika hendak beranjak,kubangunkan teman-teman yang masih Mati agar bangun.Untuk bersama menuju masjid.

Subuhpun terasa syahdu, Pak Imam membaca Asy Saymas di rokaat pertama dan Adh Dhua’ di rokaat kedua. Kombinasi yang cocok untuk mengawali Pagi. Kali ini, Sabtu 11 Jumadil tsani 1432 H. bertepatan dengan 14 Mei 2011 M. Baru sehari setelah Nasehat Kematian yang bertubi-tubi di hari kemarin, Jum’at.

Tiba-tiba, Ustadz Salim dengan pasti menuju arah Microphone. Seperti Pak Ali kemarin, beliau juga membawa selembar kertas putih, CATATAN MISTERI. Aku tak henti - hentinya berbicara pada diriku. Apakah tentang Mati lagi? Apakah ini kelanjutan dari Nasehat Kematian kemarin?

“INNA LILLAHI WA INNA ILAHI ROJI’UN. Telah berpulang ke Rahmatullah, Ibu Nani binti Nano. Alamat RT 01 RW 19. Semoga Allah melimpahkan Rahmat, dan Maghfiroh kepada beliau. Bagi yang ditinggalkan, semoga senantiasa dianugerahi Kesabaran yang berlimpah.” Bunyi Kertas MISTERI itu.

Beliau kemudian menyudahi pengumuman KEMATIAN di pagi itu.

***

Kawan, Mati itu PASTI. Ia tak mungkin bisa kita Tawar. Mati adalah Misteri. Karena siapapun tak pernah tahu, KAPAN DIA AKAN MATI?” Pertanyaannya adalah : Siapkah kita MAti Saat ini ?

Kawan, satu yang ingin saya tekankan. Untuk diri sendiri juga untuk kawan semua. BEKAL MATI. Allah berfirman, DAN SEBAIK BAIK BEKAL adalah TAQWA. Mari persiapkan bekal tersebut, sebanyak mungkin , sebisa Kita. Sehingga ketika Izro’il datang bertamu, Kita telah Siap. Meskipun baru Siap dalam Keterbatasan.

Kawan, saya jadi teringat dengan seorang sahabat. Dua tahun yang lalu, Saya bertanya kepadanya, “ Jika boleh memilih, pada usia berapa kamu MAU mati? Dalam keadaan Seperti apa ?” tanyaku lugu, tanpa merasa bersalah.

Dengan senyum yang menginspirasi, dia menjawab pasti, seakan sudah siap, “ Jika memang diberi pilihan, saya MAU mati pada usia 43 tahun. Ketika itu saya sedang meMUROJA’AH (Mengulang ) Hafalan Qur’an saya.”

Akupun membalasnya dengan senyum , tak aklah manis dari senyumnya, “ Berarti kamu duluan, karena aku berharap MATI pada usia 63 tahun. Ketiak itu, aku sedang sbuk mengurusi sebuah pesantren tahfidz.”

Kamipun kemudin berpisah, dengan memegang keMAUman untuk MATI itu. Semoga Allah mengabulkan mimpi kami, atau menggantinya dengan yang Lebih Baik lagi .

Kawan, Apakah kau sudah siap untuk dicatat dalam kertas MISTERI itu?


Depok, 11 Jumadil Tsani 1432 H.
Ketika Surya mulai menyebarkan apinya. Terik yang menyengat.

Ramadhan, Displin dan Keberkahan.

Ramadhan adalah salah satu sarana untuk melatih kedisplinan bagi umat islam. Mereka harus disiplin waktu,juga tata cara dalam melaksanakan setiap ibadah yang disyari’atkan di bulan ini. Mulai dari shalat yang harus tepat waktu, berbuka yang semsetinya disegerakan sesaat setelah adzan maghrib berkumandang, tarawih setelah shalat isya’ usai, hingga sahur yang harus dihentikan ketika adzan subuh bergema. Pun, dengan hal-hal lain semisal hubungan halal suami istri yang harus ditinggalkan di siang hari.

Hal ini merupakan pembelajaran yang Allah berikan kepada semua umat manusia, khususnya orang bertaqwa yang melaksanakan segenap ibadah di bulan ini. Muaranya adalah terbentuknya pribadi pribadi Robbani yang senantiasa berpijak kepada Al Qur’an. Yaitu pribadi yang  berkata dan berperilaku sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan dan apa yang disunnahkan oleh sang Nabi teladan.

Disiplin, merupakan salah satu sarana kesuksesan. Ia juga menunjang kemanfaatan suatu benda atau makhluk. Salah satunya, terlihat dari seekor binatang bernama Ayam.

Ayam adalah salah satu jenis hewan ternak yang sangat disiplin. Jadwal hidupnya, sangat sesuai dengan karakter alam sehinggat  patut kita teladani.

Mereka bersama anak-anaknya sudah beranjak dari kandang mereka sejenak setelah fajar menyingsing. Mereka bersinergi mencari kehidupan. Cobalah amati mereka! niscaya akan Kita dapati, ketika waktu dhuha baru masuk, temboloknya sudah nampak besar,perutnya sudah penuh sementara binatang lain ada yang baru bangun. Mereka melakukan itu tanpa henti dan sesekali beristirahat dari terik di siang hari. Sejak pagi hingga sore, ia melakukan titah Tuhannya, Bekerja memakmurkan bumi, tanpa mengenal lelah.

Setelah senja menuju peraduannya, merekapun bergegas. Pulang ke markasnya masing-masing. Ada yang memang suka tidur di kandnag yang sudah disiapkan oleh majikannya, ada pula yang sukanya betenger di pepohonan. Tapi, dalam kasus ini, ada jenis Ayam yang harus digiring ketika maghrib menjelang. Ini merupakan jenis Ayam yang tidak tahu diri dan berkecenderungan membangkang, hidupnya tidak disiplin.

Bagi yang suka bertengger di atas pepohonan, hiruk pikuk manusia di bawahnya tidak cukup menarik perhatiannya. Mereka acuh, tak bergeming dan enggan bergabung. Mereka yakin dengan pilihannya. Dan itulah konsekuensi dari kedisiplinannya, terasing dari keramaian yang tidak produktif.

Ketika pagi masih buta, Mereka sudah bangun. Mereka bertasbih, memuji Tuhannya dengan berkokok seraya membangunkan insan-insan yang beriman. Lihatlah aktivitasnya yang satu ini! Mereka tidak pernah absen dan selalu berkokok pada jam yang sama setiap malamnya. Benarlah apa yang dikatakan Rasulullah melalui riwayat Ibnu Mas’ud, “ Jika kamu mendengar kokok ayam di waktu malam, maka berdoalah. Karena sesungguhnya ia melihat malaikat yang turun ke langit dunia.”

Tidaklah heran jika kemudian tepat selepas subuh, mereka sudah bersiap diri bersama anak-anaknya untuk pergi menyambut karunia dari Allah, Tuhan yang telah menciptakan dan mengajarinya.

Ayam, telah mengajarkan kepada Kita akan pentingnya sikap disiplin di sepanjang hayatnya. Maka kita dapati Mereka menjadi bermanfaat bagi alam juga manusia seluruhnya. Dagingnya enak untuk dijadikan lauk, bergizi pula. Organ dalamnya tidak kalah lezatnya, bulunya juga bisa dibuat sebagai hiasan, bahkan kotorannyapun bisa diolah menjadi pupuk kandang yang menyuburkan tanah dan tanaman. Maha Benar Allah dengan FirmanNya, “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs Ali Imran 3 : 191)


Ramadhan, adalah bulan keberkahan. Maka, Disiplin adalah sarana untuk meraih keberkahan itu. Disiplin dalam menghambakan diri kepada Sang Maha di Bulan yang Berkah ini. Semoga kita berubah menjadi manusia yang berlimpah Berkah, yang bermannfaat bagi diri juga orang lain, Amiin. Wallahu A’lam Bish Showab.

Tersenyumlah! Karena Allah bersama Kita ...

Bismillahirrohmanirrohiim.
Assalamu’alaikum ikhwah fillah …
Pagi ini, kita akan sedikit berdiskusi tentang Hidup. Hidup yang terkadang tidak seperti apa yang kita inginkan. Ketika mimpi mimpi kita, tak seperti yang Allah kehendaki untuk kita. Jika memang faktanya seperti itu, maka saya katakan,“ Sebaiknya, kita memang harus pandai-pandai berdamai dengan takdir.”

Ingat kawan ! Jangan salah artikan “berdamai dengan takdir” sebagai sebuah bentuk kepasrahan total, tanpa upaya sedikitpun.“Berdamai dengan takdir” adalah menerima dengan lapang dada, dengan keikhlasan terbaik , setiap apa yang Allah berikan, setelah kita habis-habisan berjuang. Tentunya, hal ini kita lakukan karena kita sadar sepenuhnya, bahwa Allah Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk kehidupan kita, baik kehidupan dunia terlebih lagi akhirat.

Islam mengajarkan kepada kita untuk ikhtiar. Tetangga sebelah sering menyebut ikhtiar dengan sebuah istilah yang menggelitik, “ memeras Keringat, Membanting Tulang.” Ini sebuah ungkapan sederhana yang sarat makna. Dan memang seperti itulah ikhtiar, kita lakukan sesuatu, apa yang kita ingini, dengan kemampuan terbaik yang kita miliki. Bukan ragu-ragu, bukan setengah jadi, melainkan TOTALITAS. Ini pula yang disebut dengan “ Profesional” oleh mereka yang berbaju rapi dan berjas setiap hari, Kaum kantoran. Sedangkan kalangan menengah sering menyebutnya dengan KERJA KERAS.

Sahabat sekalian, Allah adalah pencipta kita. Ia pasti Maha Tahu tentang seluk beluk kehidupan kita. Begitupun, dengan apa yang terbaik untuk kita. Oleh karenanya, yang pertama kali harus kita lakukan ketika “INGIN” kita tak bersesuaian dengan “Apa yang kita terima”, maka yang harus dilakukan adalah SADAR. Menyadari dengan sebenar-benarnya, bahwa hal itu bukanlah yang terbaik untuk diri dan kehidupan kita. Walaupun, kita sangat menginginkannya. Maha benar Allah dengan apa yang difirmankanNya dalam Surat Al Baqoroh ayat 216 : Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.


Konteks ayat ini memang sangat terkait dengan Perang di Jalan Allah. Melawan kafirin, munafiqin dengan seluruh mampu, dengan semua yang kita miliki sebagai bentuk penghambaan diri kepada Allah, sebagai bentuk kepatuhan seutuhnya kepada Sang maha Pencipta. Siapapun, tidak menyukai peperangan, begitupun kaum mukminin kala itu. Karena Damai itu Indah. Namun, ketika kita diperangi, ketika harga diri kita diinjak – injak, ketika martabat  kita tidak dihiraukan, dan mereka nyata-nyata memerangi Kita, maka kitapun harus “MEMERANGI” mereka, meskipun kita tidak menyukai peperangan itu.

Begitupun, ketika Kita menginginkan sesuatu yang menurut kita baik, kemudian sesuatu itu terlepas, yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa sesuatu itu BUKAN yang terbaik untuk kita. Sembari terus berharap dan berusaha agar Allah memberikan ganti yang Terbaik, entah di dunia ini ataupun di akhirat kelak.

Persoalan yang timbul kemudian adalah , Susahnya Menyadari. Terkadang, teori memang mudah. Praktek tentulah tak semudah teori. Namun, tak ada salahnya kita megingat-ingat teori tersebut untuk kemudian mempraktekannya. “ Susah?”, “Iya.” Tapi susah bukan berarti TIDAK MUNGKIN. Ketika kita mencoba, Insya Allah kita Bisa, meskipun susah.


Sadar tentunya bukan akhir. Ia adalah awal yang kelak mempengaruhi langkah kita berikutnya. Ketika kesadaran akan kuasa Allah itu mendominasi,maka yang berikutnya harus kita lakukan adalah Instropeksi. Boleh jadi, yang menimpa kita sekarang adalah akibat dari dosa masa lalu kita. Disadari ataupun tidak. Oleh karenanya, instropeksi ini harus kita lakukan secara intens, terus menerus, dengan iringan istighfar tiada henti. Kelak, Allah akan menurunkan rahmatNya. Sehingga hati yang awalnya sempit, kelak menjadi lapang. Yang awalnya gelap, kelak berangsur terang. Yakinlah! Karena Allah maha Pengampun dan Pengabul Doa.

Instropeksi yang berlarut, bisa terjatuh pada meratapi nasib. Ini yang salah. Instropeksi haruslah berujung pada kesimpulan : Esok harus lebih baik. Ini yang terpenting. Maka, setelah instropeksi, kita harus menatap tegar ke depan. Karena jalan sukses bukanlah “Jalan itu” saja. Banyak jalan yang menanti untuk kita lewati. Bukalah mata, telinga dan hati. Ikuti bisikan nurani yang bersih dan kemudian melangkahlah, Dekati Allah agar Ia senantiasa membimbing kita. Agar Ia senantiasa meluruskan langkah-langkah bengkok kita. Agar Ia bisa kita rasakan keberadaannya, meskipun, kita merasa sendiri. Karena Ia, Selalu bersama Kita. Innalaha Ma’anaa …

Banyak cara yang kemudian bisa kita lakukan dalam tahap ini. Yang termudah setelah Istighfar habis-habisan, adalah Tilawah Qur’an. Bacalah Qur’an dari mana saja kita kehendaki. Dari poermulaan, pertengahan, atau surat terntentu yang memang ingin kita Tadaburi. Ambil Wudhu, cari moment yang tepat, sendirian. Eh maaf, BERDUA SAJA, Dengan Allah. Jadikan Ia dekat, sedekat janjinya, “ Faida sa’alaka ‘Ibadii ‘Anni.“ “Ketika hambaku bertanya dimanakah Aku?” demikian firman Allah dalam Surat Al Baqoroh. Maka jawablah, “Fainni Qoriib.” “ Sesungguhnya Aku ( Allah ) itu Dekat.” Ya sobat! Allah itu dekat. Tapi kita yang sering menjauh dariNya.

Demi Allah sobat, Al Qur’an akan memberikan jawaban dari setiap gundah. Dari setiap tanya kita yang tidak berujung. Ia akan membimbing kita, meskipun kita tidak tahu artinya. Ia benar-benar akan menjadi sahabat karib kita, ketika kita benar – benar mengakrabinya. Permasalah yang timbul kemudian adalah, “ Jangankan Akrab. Menyentuhnya saja jarang.” Naudzubillahi mindzalik.


Jangan pula Qur’an sekedar menjadi Bacaan. Jadikan ia pedoman. Ketika apa yang kita “INGINI” tidak Allah berikan, cobalah tadaburi surat Ibrohim dan surat An nahl. Di Surat Ibrohim ayat 34 disebutkan : Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Kemudian An Nahl ayat 16 Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Shodaqollahul ‘adhiim. Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Dua ayat tersebut cukuplah jadi perenungan kita. Karena seringkali kita lupa ketika nikmat itu kita dapatkan, dan kita Selalu “Menggugat” manakala apa yang kita “INGINI” tidak terjadi. Padahal, yang kita ingini, tidak selalu baik untuk kehidupan kita.

Sobat, mari rekonstruksi pemikiran kita. Biarlah kemarin kita terjatuh. Karena memang allah menghendaki kita segera bangkit dan bergerak. Biarlah kemarin kita lelah, karena Allah Allah ingin agar kita menyejarah. Biarlah kaki ini perih, karena Allah ingin agar kita lebih GIGIH lagi dalam mendekatiNya. Karena Allah, hanya menghendaki kebaikan untuk kIta. Bukan sebaliknya.


Sebuah penutup, semoga membuat kita kembali tersadar, bahwa NIkmat Allah sungguh luas membentang. Maka, tak pantas kiranya jika hanya karena satu nikmat yang terlepas, kita berubah menjadi Pembangkang. Allah kembali mengingatkan , Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” ( Qs Ibrohim 14 : 7 )

Mari, Merayakan Syukur. Subhanallahi walhamdulillahi wa Laa Ilaha Illalllahu Wallahu Akbar Walillahil Hamd !!!
Semoga Allah melimpah ruahkan berkahNya, untuk kita semua.

Di siang penuh berkah, Jum’at 17 Jumadil Tsani 1432H / 20 Mei 2011.

Selamat Jalan Bu .... ( Surat Cinta untuk Ustadzah Yoyoh Yusroh )


Hari ini, usai sudah tugas yang kau emban. Tunai sudah amanah yang selama ini kau jalankan. Oleh karenanya, Allah memanggilmu. Ia ingin kau menghadap kepadaNya. Membawa selaksa Cinta, selaksa karya yang telah kau toreh dalam kurun waktu 48 tahun lebih 6 Bulan.

Pagi ini, kau mengahadapkan dirimu kepada penciptaMu, di sepertiga malam terkahir. Waktu yang biasanya kau gunakan untuk menghamba, berdua dengan Allah, pemeliharamu satu satunya. Namun, karena safar, perjalanan, kau urung melakukan itu. Sebuah kecelakaan yang berujung pada ajal, menjadi sebab kepergianmu, menghadap Ilahi. Kala itu, kau baru pulang dari Universitas Gajah Mada, menghadiri Wisuda buah hatimu. Tentunya, ada bahagia yang menyelinap di hati sucimu.

Di kebutaan pagi ketika Aku tengah menggigil kedinginan lantaran udara, sehingga urung beranjak dari pembaringan, kau dijemput oleh Izroil. Sekali lagi, Untuk menghadapkan dirimu, kepada Sang Maha Suci.

Dan berselang jam setelahnya, sebuah kabar masuk ke ponsel, ketika Aku masih bersantai leha selepas tilawah, di Rumah Allah. Kabar yang menyesakkan, mengagetkan, namun harus diterima dengan lapang dada. Karena itu Fakta, benar adanya. Kabar yang membuatku beristighfar sejadi-jadinya sembari melantunkan doa, “ Semoga Allah mengampuni semua dosamu, menerima amal Sholihmu dan menempatkanmu di tempat terindah di SisiNya. Amiin."

Kabar itu seperti mimpi, karena begitu cepat terjadi. Bahkan seorang kolega bertanya heran, “ Benar Gak Mas ? Jangan menyebarkan pesan yang belum jelas ah!” Aku terdiam. Dan memang bingung mau menjawab apa. Perasaanku, sama dengan yang ia alami. Hampir tidak percaya. Lalu, kupencet keypad ponselku, membalas pesan itu, “ Mas, Beginilah Kematian mengajari Kita. Ia datang dengan tiba-tiba. Tanpa dikira, oleh siapaun. Ia datang, tak perlu dijemput. Dan pergi, tak usah diantar. Ia datang dan pergi, sesuai kehendak Allah, sang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.”

Kemudian, satu persatu bayang tegar wajahmu berkelabat dalam fikirku. Dimataku, Kau adalah wanita tangguh. Jika Allah meridhoi, Aku ingin mempersunting wanita yang setangguh dirimu, atau lebih tangguh Lagi. Walaupun, kusadari, Layakkah aku mempersunting wanita yang setangguh dirimu? Ah, semoga saja Allah melayakkanku, Amiin.

Pertengahan tahun 2008 Masehi, dalam suatu acara Penggalangan Dana untuk saudara semuslim di Palestina. Itu adalah pertama kalinya Kita berjumpai. Tapi, aku seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya. Tepatnya dimana, Aku tidak tahu. Belakangan, kuketahui rasa itu bernama, TA’LIFUL QULUB. Bersatunya Hati karena kesamaan Aqidah.

Kau bagai Singa kala itu. Semangatmu membakar jiwa  yang kerontang karena kesibukan. Tilawah pas-pasaan, tahajud hampir tidak terjamah, hanya jama’ah di masjid. Itupun kualitasnya sangat rendah. Berangkat Belakangan, Pulang duluan. Padahal Nabi bersabda, “ Yang terbaik  dinatara kamu adalah Yang PALING awal mendatangi Masjid dan PALING AKHIR meninggalkannya.” Tapi aku, kebalikan dari itu. Astaghfuirullahal ‘Adhiim.
Dengan suara yang lembut namun perkasa, kau sampaikan kepada kami, “ Saudara-saudara kita di Palestina,” Suaranya benar-benar Perkasa, meruntuhkan tebalnya kabut dosa di hatiku.” Masih sempat melaksanakan Qiyamullail dan Hafalan Qur’an” Aku mulai tersentak, nampaknya Kau akan menyindirku. “ Padahal di kanan, Kiri, depan dan belakang Mereka adalah BOM, Ranjau yang sengaja di pasang oleh Zionis laknatullah dan siap meledak kapanpun”  Benar kan kataku. Ia menyindirku, telak. Aku tak berkutik. Seperti mati langkah. Aku hanya pasrah dan membiarkan mataku mengalirkan airnya, membasahi pipiku yang  lama tak menangis karena takut kepada Allah. Allahu Akbar Walillahil Hamd. “ Sementara Kita, yang nyaman, enak, damai dan tidak dilanda konflik bersenjata, dengan tanpa merasa bersalah meningalkan TAHAJUD, melupakan hafalan Qur’an dengan dalih yang remeh temeh,  Sibuk Bekerja.”  Lanjutnya berapi-api.  “Ya Allah , Ampuni kelalaian kami selama ini.” Doaku kala itu.


Setelah itu, aku melihatmu dengan gigih berdakwah, menghadiri setiap kajian terkait Palestina dan Timur Tengah. Bahkan, aku dibakar cemburu, ketika kulihat engkau berada di tengah Pejuang Palestina. Ketika Kau berfoto bersama Ustadz Ismail Haniya. Perdana Menteri Palestina dari HAMAS, Harokatul Muqowwamah Al Islamiyah. “ Barokallahu fiik Bu, semoga Allah senantiasa menjagamu dan memanjangkan langkah Dakwahmu.” Bisikku iri, ketika melihat gambar itu.

Kemudian,  terakhir kali bertemu denganmu, akhir April 2011. Kau bersinergi bersama mentari membakar diriku. Mentari membakar kulit dan fisik, sementara Engkau membakar semangatku yang mulai lumpuh, dengan taujihmu. Luar Biasa !!! Suaramu masih sama. Lembut namun perkasa. Kau berhasil melelehkan air mataku, di waktu bersamaan, kau membuat jiwaku bergelora, semangat meluap berlipat-lipat. Allahu Akbar walillahil hamd !!! peristiwa ini, kucatat sebagai momen perpisahan kita di sini. Semoga Allah berkenan Menjumpakan kita di tempat yang lebih baik disisiNya.Amiin.


Pada kesempatan lain, dalam taujihmu , Kau pernah berkata, “ Dan Kita akan bersama sama Sholat berjama’ah di masjidil Aqsho. Allahu Akbar walillahil Hamd.” Kamipun menyambut kalimat itu dengan takbir serupa, dengan semangat dan visi yang sama , PALESTINA MERDEKA. Dan kini,  Kau lebih dulu menghadapkan diri kepada Sang Pencipta. Nampakanya, karena hal itu, Kau tidak bisa berjama’ah bersamaku di Al Aqsho di dunia ini.

Baiklah Bu, nampaknya tak kan pernah usai jika kutuliskan semua rasaku. Aku telah menganggapmu sebagai Ibuku, Ibu seaqidah. Walaupun tidak pernah bersua secara khusus. Pun, Aku tak pernah berbicara denganmu secara langsung. Tapi, Aku akan berusaha, akan kulanjutkan semangatmu dalam berjuang. Semoga aku bisa menyusulmu ke Palestina, Jika Allah menghendaki.

Selamat Jalan Bu, Aku bersaksi bahwa kau adalah orang baik. Dan aku yakin, bahwa Allah Maha Menepati Janji. Semoga Kau lebih baik dari yang Aku kira.

Jasadmu telah pergi. Tidak mungkin kujumpai lagi. Hanya foto-foto perjuangan yang kusimpan, sebagai kenang-kenangan. Kelak, akan kuberitahu anak-anakkau tentang dirimu, bahwa Kau adalah MUJAHIDAH TANGGUH ZAMAN INI. Namun, benih Semangat , benih Perjuangan yang telah kau tanam, pasti akan bersemi,dan kelak berbuah. Beriring dengan kepergianmu, menemui Robb Kita. Semoga Allah Memberi Khusnul Khotimah kepadamu, juga kepada kami semuanya.

Selamat Jalan Bu, baik – baik di sana ya. Kami akan terus berjuang, semampu kami, hingga Islam benar benar Berjaya. Allahu Akbar walillahil Hamd !!!

Tak terasa, ada bulir yang mengalir lembut.
Sabtu Pagi, 18 Jumadil Tsani 1432 H / 21 Mei 2011 M

Minggu, 21 Agustus 2011

Selamat Menikmati Masalah ..... !!!

Pagi itu, ada sebuah pesan masuk. Dari sahabat jauh. Jauh di mata, namun dekat di hati. Ya , begitulah ukhuwah. Jarak bukanlah penghalang untuk berdekatan, karena sejatinya, Ruh orang-orang beriman, pastilah bersatu. Jarak hanyalah sebuah bumbu yang kemudian membuat Masakan Ukhuwah menjadi lebih nikmat karena rasanya bertambah, RINDU. Apalagi, Rindu ini beda. Bukan rindu nafsu, bukan pula rindu setan. Rindu dalam ukhuwah adalah RINDU Karena Allah. Sejatinya, ingin kusampaikan padamu kawan, Aku Merindukanmu semua, karena Allah. Semoga kelak, kita bisa Merayakan Rindu, bersama penghulu kita, kelak di SurgaNya. Amiin.

Pesan tersebut bernada Galau. Ada ragu yang dipaksakan. Sebenarnya, sahabat saya ini bisa tegar. Namun, sifat alami manusia, selalu mengarah kesana, KELUH dan KESAH. Mari lihat Firman Allah dalam Qur’an Surat Al Ma’arij : Innal Insaana Khuliqo Halu’an ( ayat 19 ). Sesungguhnya, manusia diciptakan dalam keadaan keluh Kesah lagi Kikir. Idza Massahusy syarru jazuu’an ( ayat 20 ).  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Wa Idza Massahul Khiru Manuu’an (ayat 21). Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Allah adalah Pencipta Kita, karenanya Allah  Maha Tahu tentang thobi’i Kita sebagai manusia. Diberi Nikmat Kufur, diberi Susah Mengeluh. Semoga Kita tidak termasuk dalam golongan ini, Amiin.

Hal ini tidak terdapat pada orang yang beriman. Sabda Nabi, “AJABA LI AMRIL MUKMIN.” “Sungguh ajaib setiap urusan Orang beriman itu.” Mengapa ajaib? Dilanjutkan oleh sang Nabi, “ Ketika diberi Nikmat ia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan ketika diberi cobaan, musibah, mereka bersabar. Dan itu baik pula baginya.”

Hadits ini, dan ayat dia atas, merupakan sebuah pilihan. Akankah Kita menjadi Manusia Biasa yang suka keluh kesah atau Orang Beriman yang bersabar serta bersyukur atas semua yang Allah berikan? Silahkan Memilih.

Kembali ke pesan sahabat saya tadi. Pesan tersebut berbunyi, “ Apa yang harus Kita lakukan ketika Kita benar-benar terhimpit masalah?”  Pesan yang masuk di pagi menjelang siang itu membuat dahi saya berkerut. Ya, tidak biasanya ia berkirim pesan seperti itu. Karena sedang agak sibuk dengan pekerjaan, dengan singkat saya Balas, “ALLAH.” Ya, Allahlah tempat kembali atas semua masalah. Karena masalah, adalah alat yang Allah gunakan untuk mendewasakan Kita.

Hidup adalah masalah. Oleh karenanya, jika TIDAK MAU diberi  masalah, silahkan memilih untuk Tidak hidup saja. Bahkan, boleh jadi, ketidak hidupan kita adalah masalah baru itu sendiri.

Hampir setiap kita bermasalah. Sesuai dengan kadar kita tentunya. Karena Allah telah menjamin, “ Tidaklah Allah membebani kamu, melainkan sesuai dengan kesanggupanmu.” (Qs Al Baqoroh : 256 ).  Jadi, masalah yang Allah berikan, adalah untuk kita selesaikan. Karena kita “pasti” mampu ntuk menyelesaikannya. Jangan jadikan masalah itu sebagai penghambat yag akan mengerdilkan diri dan jiwa kita. Namun, sekali lagi, jadikan masalah yang Allah amanahkan untuk mendewasakan Kita.

Semenjak belum terlahir, ketika masih berada dalam rahim Ibu, Kita sudah dihampiri masalah. Begitupun awal kelahiran kita, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan setelah mati sekalipun, Kita akan terus ditemani oleh masalah. Karena masalah adalah kehidupan itu sendiri.

Lalu, haruskah kita mencari-cari masalah? Atau, haruskah kita menjadi orang yang bermasalah?

Dalam hal ini, masalah seperti halnya Musuh. Bukan Musuh abadi, seperti halnya setan. Masalah adalah Musuh yang “Sangat Bisa” diajak berdamai. Ia tidak untuk dicari tapi untuk di-teman-kan. Masalah, bukan untuk dicari, melainkan untuk diselesaikan. Karena kehadiran masalah itu pasti, sebagai bagian dari kehidupan yang Allah berikan kepada kita.
Dan masalah yang Allah berikan, pastilah pula diringin sahabat sejati dr masalah itu sendiri : SOLUSI.

Tentunya, dalam menyelesaikan masalah, kita harus bersikap bijak. Carilah solusi berdasarkan panduan Qur’an dan Sunnah.Keduanya adalah panduan hidup yang pasti. Ketika keduanya telah menjadi panduan, Insya Allah masalah bisa mengantarkan kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Libatkan pula pihak-pihak terdekat untuk membantu menyelesaikan masalah kita. Keluarga, kerabat ataupun sahabat kita. Karena kita adalah makhluk sosial yang tidak mungkin bisa “ BERDIRI SENDIRI”, sehebat apapun kita.

Yang terpenting adalah, kesadaran untuk meminta tolong pada Pemberi masalah, Allah subhanahu Wa Ta’alaa. Ya, jadikan Allah sebagai satu - satunya sandaran atas setiap masalah yang kita hadapi. Jangan lupakan Allah sebagai Sumber solusi atas setiap yang menimpa Kita. Allah, pasti membantu. Apalagi ketika kita menolong agamanya. “ Jika kamu menolong Agama Allah, maka Allah akan menolong kamu dan meguatkan pijakanmu.” ( QS Muhammad ayat 7 )

Terakhir, jangan tumpuk masalah. Selesaikan sesuai prioritas. Selesaikan ketika ia mulai datang. Sehingga ia tidak menyesakkan dada Kita. Kita semua tahu, bahwa, “Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi bukit.” Begitupun dengan masalah kita. Ia akan menjadi BUKIT Masalah, ketika kita acuh dan tidak bergerak untuk menyelesaikannya, membiarkannya begitu saja.


Mudah mudahan Allah senantiasa membimbing kita, untuk menyelesaikan masalah yang diberikanNya kepada kita.
Ingat sobat, Masalah pasti bisa kita atasi. Karena ia sebanding dengan kualitas kita. Jadi, Ketika masalah Yang menghimpit kita terasa BESAR. Kemudian kita sudah berdarah-darah menyelesaikan masalah itu, Bisa jadi, kelak Kita akan menajdi ORANG BESAR, Pahlawan yang bermanfaat bagi sesama manusia, terlebih untuk Agama Allah, Al Islam yang kita cintai, Insya Allah.

Mari selesaiakan masalah kita, dengan cara  yang Islami. Ingat juga ya !!! “JANGAN CARI MASALAH.”

Selamat Menikmati Masalah …. Masalah itu Kecil, Tapi Allah maha Besar. Allahu Akbar Walillahil hamd.

Depok, 20 Jumadil tsani 1432 H / 23 Mei 2011.